Adapun terhadap nikmat Rabb mu, maka ceritakanlah…

Alhamdulillah, washalatu wasalamu ala rasulillah.
Cukup lama penantian kami, sembilan bulan lebih. Menanti karunia Allah, dan menanti kelahiran nya, serta berharap untuk terjadi persalinan dengan normal, tanpa operasi. Ini di antara yang kami inginkan, semoga Allah terus memberikan karunia Nya kepada kami.
Dan memasuki pekan ke 41 kehamilan, penantian itu ternyata berujung (sementara) dengan keputusan dokter sebuah rumah sakit bersalin di Bekasi, yaitu harus segera operasi karena air ketuban sudah sangat sedikit, sementara itu belum ada tanda tanda kontraksi sebagai sinyal persalinan normal.
Bidan yang biasa menangani bunda juga menyarankan seperti itu mengingat ada riwayat operasi pada kelahiran anak ketiga kami, sehingga proses persalinan setelahnya harus berjalan normal tanpa induksi, dan jika kondisinya sudah seperti ini (sedikit nya air ketuban sementara tidak ada kontraksi), maka harus menempuh proses operasi.

Hasil menelusuri catatan pengalaman teman teman dan juga para penghuni google memberikan informasi yang sama. Berakhir dengan caesar section.
Keputusan itu dokter sampaikan selasa siang, 3 Februari 2015. Kami pulang dari rumah sakit dengan berbagai pikiran yang harus segera dicarikan solusi.

Kami masih terus berharap, memohon kepada Rabbul alamin, sang pemilik alam ini, yang hanya Dia yang pantas disembah dan ditaati, agar menjadikan persalinan ini sehat, mudah, dan normal.

Alhamdulillah Allah memberi banyak kemudahan dengan perantara doa dan bantuan Mbah Uti, Mbah Kakung, Bude, Pakde, Om, Tante dan banyak teman. Alhamdulillah, Jazakumullahu khairan.

Akhirnya kami berencana untuk operasi besok pagi, agar lebih cepat ditangani. Untuk itu selasa malam sudah harus masuk ruang perawatan untuk observasi dan persiapan lainnya.

Bada isya kami berangkat. Bunda diantar mobil bidan, dan ayah melaju dengan vega nya.

Proses pendaftaran pasien dan observasi selesai kurang lebih jam 10 malam, dan sebelum masuk ruang perawatan kami diberi informasi kalau ternyata dokter baru bisa melakukan operasi besok siang sekitar jam 1.
Berarti ga jadi pagi pagi dong…
Hmm, agak sedikit kecewa, karena berarti kami masih harus sedikit lama menunggu.
Alhamdulillah masih dimudahkan untuk berprasangka baik kepada Allah, rabbul alamin. Dia lah yang menentukan setiap ketentuan. Dan pasti ada kebaikan yang sangat banyak pada ketentuan yang telah Dia tentukan.

Jadi malam rabu kami akan tidur di rumah sakit, menunggu operasi esok hari…

Kami pikir akan lebih enak kalau malam ini kami kembali ke rumah. Tidur di istana kami. Kata bunda, lebih nikmat dengar rewel dan ramainya anak anak, daripada tidur dengan tenang di kamar rumah sakit yang sepi. Jazakillahu khairan ya zawjatii.

Setelah minta izin ke perawat, kemudian perawat telepon dokter, kami boleh pulang. Dengan pesan, besok sebelum jam 7 sudah harus kembali ke rumah sakit, untuk persiapan operasi. Oke, InsyaAllah.

Sekitar jam 11 malam kami menembus gelap dan sepi nya Bekasi. Berdua saja.

Alhamdulillah perjalanan lancar sampai rumah. Ketok ketok pintu ga ada yang bangun kecuali Asma. Kuping nya memang lebih peka dari yang lain… Hehehe.

Rabu pagi, jam 6 lebih. Bunda sarapan, ayah jemur baju. Dihya sudah main sama om Bai, Fathimah hampir ngambek cari celana panjang. Naufal bangun dan komentar, bunda ga jadi lahiran? Kok balik lagi? Hmm…

Ternyata pagi itu bunda sarapan dengan menahan mules. Ini mules bab, apa kontraksi ya?
Beberapa hari kemarin mules itu memang sering datang, tapi kontraksi palsu kayanya.
Menjelang jam 7 kami sudah siap berangkat kembali ke rumah sakit. Memenuhi pesan perawat semalam, persiapan operasi nanti siang.
Kami memilih berangkat naik motor, mau pinjam mobil khawatir macet. Jalan ke rumah sakit lewat perumahan Kemang Pratama memang terkenal macet di pagi hari. Anak sekolah berebut jalan dengan para pekerja.

Menjelang lampu merah kemang bunda lebih sering meringis dan mengeratkan pegangannya di pinggang ayah.
Ga tahan mulesnya…. Ini mau pub.
Ntar mampir aja ke masjid, cari toilet.
Oke deh, kita ke masjid di kemang aja ya, lebih nyaman toilet nya.

Menjelang sampai masjid bunda sudah ga sanggup turun motor, agak lama berhenti di parkiran masjid.
Dipaksa untuk lanjut ke rumah sakit, ga mau. Mau nya pub dulu.

Hmm… Cukup lama dan panjang perjalanan dari tempat parkir ke toilet karena harus berhenti beberapa kali, nahan mules.
Akhirnya sampai toilet perempuan, dan ayah pun harus nemenin masuk. Sempat dilihat beberapa ibu ibu dan siswi sekolah, ini laki laki di toilet perempuan…

Aktivitas di dalam toilet ga banyak menghasilkan apa apa selain mules dan mules, tanpa buang air besar.
Untuk keluar dari toilet ternyata tidak lebih mudah daripada masuk nya, karena mules makin menjadi.
Saat itu beberapa ibu ibu mendekati kami dan segera menawarkan bantuan setelah tahu kondisi bunda. Ada yang langsung telepon sopir nya untuk bawa mobil ke masjid, ada yang cari kunci klinik masjid, ada yang cari kursi roda, dan…
Jazakumullahu khairan atas bantuan nya, kami tidak kenal anda semua, tapi alhamdulillah Allah gerakkan hati mereka untuk memberi pertolongan.

Semua usaha itu berakhir dengan masuk nya bunda ke dalam Ambulan milik masjid. Masuk dengan digotong beberapa lelaki, karena bunda sudah ga sanggup berdiri lagi.
Dan kami berdua akhirnya meluncur ke rumah sakit dengan sopir Ambulan dan satu lagi teman.
Alhamdulillah, banyak kemudahan dari Allah.

Sepanjang jalan kontraksi terjadi, alhamdulillah sampai juga di IGD.
Begitu masuk, langsung periksa dalam.
Ibu sudah pembukaan lengkap, kita langsung masuk ruang bersalin saja, begitu instruksi bidan di IGD.

Tidak lama kemudian bunda sudah terbaring di ruang bersalin, ditemani ayah dan beberapa perawat. Siap menunggu persalinan.

Harap dan cemas campur jadi satu. Harapan untuk persalinan normal, tentu ini yang kami inginkan dari kemarin. Tapi diagnosa dokter serta beberapa informasi tentang sedikit nya air ketuban dan adanya riwayat operasi, membuat kecemasan ini berdetak juga.

Masya Allah. Apa yang Allah kehendaki tidak ada yang mampu menghalangi.
Rabu pagi, 14 Rabiutsani 1436 / 4 Februari 2015 jam 8.10, Allah takdirkan persalinan normal itu terjadi. Dengan mudah, lebih mudah dari sebelumnya. Alhamdulillah wa Subhanallah. Seorang bayi perempuan.
Setegar bunda nya, InsyaAllah.

Dia hadir, menambah ramainya bumi ini. Menambah kebahagiaan hati ini, dan hati orang orang yang mencintainya.
Semoga menjadi manusia yang bermanfaat untuk ayah bunda nya, dan tentu menjadi makhluk Allah yang senantiasa taat kepada Allah dan Rasul Nya, dengan cara yang benar (karena berapa banyak manusia ingin mentaati Tuhan nya, tetapi caranya tidak benar).
….
….
Beberapa saat setelah itu, aku pun keluar dari rumah sakit dengan nyeker alias ga pakai sandal.
Lho, kok bisa?
Saat naik Ambulan masjid tadi, aku keluar dari toilet, tanpa sempat ambil sandal. Dan sekarang aku harus ambil motor dan sandal yang terparkir di masjid.

Ini sedikit kisah dari nikmat Allah yang sangat besar.
Semoga banyak faedah yang bisa diambil, atau sekadar pengingat untuk selalu merasa bahwa Allah maha pemurah, Allah maha kuasa, maha pemberi nikmat.
Dan semakin menjadikan diri ini takut jika nikmat itu malah kita balas dengan maksiat.
Semoga Allah menjadikan kita manusia yang mudah bersyukur atas segala nikmat…
Dan adapun terhadap nikmat Rabb mu, maka ceritakanlah….

Washalallahu ala nabiyyinaa muhammad, wa alhamdulillah rabbil alamin.
Annapekayon, 14 rabiutsani 1436.
Ayah Fahita Hafza

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s