ditulis dari (sebuah ingatan ketika datang di ) kajian hadits ‘arbain anNawawi
masjid alAmin, Depkeu, kamis 11 januari 07, ust.Syaikh Mudrika Ilyas
Berdasarkan dalil :
Surat alHujurat : 14
‘Orang-orang Arab Badui berkata, “kami telah beriman.” Katakanlah (kepada mereka), “kamu belum beriman, tetapi katakanlah ‘kami telah tunduk (Islam),’ karena iman belum masuk ke dalam hatimu … ”
Nah, siapakah orang yang beriman itu ?
Dijelaskan oleh Allah subhanahu wa ta’ala di surat alAnfal : 2-4
‘Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetar hatinya, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, bertambah (kuat) imannya dan hanya kepada Rabb mereka, mereka bertawakkal.’
‘(yaitu) orang-orang yang melaksanakan sholat dan yang menginfakkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada meraka.’
‘Mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman … ‘
Dalam surat alAnfal tersebut, Allah memasukkan tanda-tanda keimanan yang terdiri dari 2 bagian, yaitu :
- amalan hati (bergetar hatinya dan bertambah imannya jika disebut nama Allah, bertawakkal kepada Allah)
- amalan lahir (sholat, infaq/zakat)
Jadi seseorang yang mengaku mu’min pasti akan terbukti bahwa dia melakukan amalan-amalan yang disyariatkan. Sehingga tidak benar jika ada yang mengatakan “yang penting hatinya (yakin)”. Katakan pada orang tersebut “hati anda tidak penting”, karena orang yang mengatakan “yang penting hatinya” itu adalah orang yang hatinya tidak lurus, tidak bersih.
Seseorang yang hatinya lurus maka amalan lahiriahnya (yang merupakan bukti kelurusan hatinya) akan sesuai dengan apa-apa yang telah disyariatkan oleh Rabbul`alamin.
Kemudian mengenai ciri-ciri seseorang telah beriman dan merasakan lezatnya iman, dijelaskan oleh Rasulullah shalallahu`alaihi wa sallam :
Hadits … jika seseorang itu …
1. Mencintai Allah dan RasulNya melebihi cintanya kepada yang lain.
Maka cintanya inilah yang menjadikan motivasi bagi dirinya untuk terus bersemangat beribadah dan tidak sedikitpun merasa berat menjalankan syariatNya.
2. Apabila dia mencintai sesuatu yang lain, maka cintanya itu adalah karena Allah.
Dia mencintai sesuatu karena sesuatu yang dia cintai itu sesuai dengan apa yang Allah cintai.
3. Merasa benci/tidak suka jika dia kembali pada kekafiran/kemaksiatan yang pernah dijalaninya dulu, sebagaiman dia benci/tidak suka jika dilemparkan ke dalam api neraka.
15 Mei 2008 at 1:56 pm
Susah ya kalo mau jadi orang mu’min
24 Juli 2008 at 1:46 pm
InsyaAllah dengan ILMU, Allah akan mudahkan urusan kita.
Dan kalaupun itu kita rasakan sebagai sebuah bentuk “kesusahan”, semoga Allah membalasnya dengan balasan yang lebih baik.